
Pada waktu acara Pesantren ForPeace di ponpes Pesantren Babussalam Almuchtaryah, tanggal 9-11 -2016. Saya sampaikan kepada seluruh peserta dari 30 pesantren yang hadir dan pemerintah yang saat itu hadir bahwa menurut lembaga survei yang kompeten di bidangnya menyatakan bahwa Jawa Barat termasuk provinsi yang cukup tinggi intoleransinya dalam menghadapi perbedaan termasuk perbedaan agama.
Konon, label intoleransi Jawa Barat ini banyak disanggah karena selama ini Jawa Barat memiliki penghargaan yang banyak baik lokal, Nasional, dan internasional meskipun prestasi ini tidak banyak diketahui karena sunyi dari pemberitaan.
Dalam sebuah diskusi terungkap, Intoleransi Jawa Barat jumlahnya sedikit dan tidak banyak diketahui bukan karena masalah Intoleransi ini tidak ada. Menurut versi media, berita ini jarang muncul dipermukaan karena porsi berita intoleransisi Media Jawa Barat tidak memiliki ruang yang cukup untuk publikasi. Kelihatan dari bungkus luar tidak ada kasus intoleransi tetapi seperti bara api dalam sekam.
Terbukti, selasa 612 ketika saya lewat jl. Taman Sari saya lihat oknum yang mengatasnamakan dirinya PAS (Pembela Ahlusunah) sedang melakukan orasi di pinggir jalan dan sempat saya diberi selembaran yang berupa pembetitahuan, jumlahnya tidak banyak hanya jalan macet. Orasi ini dilakukan dengan membentang spanduk kearah masuk Sabuga. Karena ada kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Natal Bandung 2016 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Jalan Taman Sari, Selasa (6/12) sore.
Pimpinan kelompok ini merangsek masuk kedalam ruang utama dan menghentikan jemaat yang sedang menyanyikan kidung di atas panggung.
"Hentikan lantunan kidung, kita kan sudah sepakat tadi. Jangan di langgar dong." Kejadian tersebut diduga dipicu lantunan kidung yang tetap dinyanyikan oleh jemaat KKR. Massa menganggap hal tersebut melanggar kesepakatan yang telah dibuat oleh panitia dengan massa PAS.
Salah seorang panitia KKR, meminta agar dihentikan sementara lantunan kidung, dan menenangkan massa PASS. Jemaat yang mayoritas berusia remaja dengan wajah panik akhirnya turun dari panggung
Mereka ini oknum-oknum (baiknya disebut oknum dari pada label ustad atau pembela ahlu sunah) karena sikapnya jauh dari watak dan akhlak Ahlusunah yang sebenarnya.
Perlu diketahui, dalam membangun Bangsa ini kita butuhkan kesalehan semua umat beragama. Kesalehan ini sulit tercapai jika pembinaan umat itu tidak diberikan ruang memperbaiki diri sesuai ajarannya
Kyai, ulama, dan para ustaz harus diberi ruang untuk membina umat Islam dengan target umat ini saleh ritual dan sosial. Dalam menjalankan ritual dan nilai-nilai agama harus memiliki jiwa toleran dan penuh perdamaian.
Begitupun agama lainnya, Kristen protestan Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu, tokoh agamanya perlu diberikan ruang untuk membina umatnya dengan target umatnya harus baik, toleran dan menciptakan perdamaian, bukan arogansi beragama.
Maka membangun bangsa ini bukan hanya tertuju pada fisik semata tapi jiwanya pun perlu dibangun supaya muncul bangsa yang beragama yang bisa saling menghargai, menghormati dan cinta damai
Fadlullah M Said
0 Response to "Benih-benih permusuhan berkedok agama"
Posting Komentar