About

SAAT PANCASILA TAK SAKTI LAGI




Saya melihat ada beberapa anak di dalam gedung itu. Saat beberapa orang arogan masuk ke sana, meski samar karena ukuran foto yang kecil, terbaca kesedihan di wajahnya. Anak-anak itu akan tumbuh dalam trauma. Setidaknya mereka memahami tentang agama lain yang pemarah. Menyadari bahwa mereka adalah minoritas.

Satu kata yang mereka maknai lemah, tersingkir, pasrah.

Mereka berangkat dari rumah dengan bergairah. Tubuh mereka segar, bersih dan wangi. Mereka merasakan Tuhan meresap dalam setiap ayunan kaki. Tuhan yang digambarkan Penyayang, yang mengajarkan jika seseorang ditampar pipi kirinya, pipi kanan hendaknya diserahkan. Yang menjadikan 'maaf' dan 'kasih' sebagai pondasi agama. Dua kata yang semakin sulit dipahami oleh orang-orang pemarah itu.

Tapi di tengah 'kehadiran' Tuhan dalam diri mereka, di dalam gedung itu, orang-orang mulai berteriak-teriak di jalanan. Orang-orang yang membuat petugas Negara mirip jongos tuan tanah di jaman feodal. Mereka begitu hapal peraturan pemerintah. Mereka begitu takut keimanannya guyah. Orang-orang yang menganggap mayoritas adalah hukum, mayoritas adalah negara.

Mereka merasa sebagai wujud kebenaran satu-satunya. Yang lain pasti neraka. Neraka. Neraka!

Ada yang bertanya apa pendapat saya soal pembubaran ibadah umat Kristiani di Bandung itu? Pembubaran ibadah, apapun agamanya, adalah perbuatan biadab. Selama ibadah itu tidak merugikan dan berakibat buruk bagi yang lain.

Tapi mengutuk saja tidak cukup. Meski Jawa Barat menduduki peringkat pertama wilayah tidak toleran seindonesia(?), menumpahkan kesalahan pada seluruh warga Jabar, khususnya Bandung, tentu juga keliru. Pastinya masih banyak orang yang masih waras di sana. Meskipun mereka juga tidak berbuat apa-apa.



Orang-orang kerdil yang mengatasnamakan islam itu memiliki jaringan. Mereka menyebar di setiap daerah dan merekrut anggota. Jumlahnya sebenarnya tidak banyak, tapi militan. Mereka selalu menyusup ketika ada demo besar, dengan agenda mereka sendiri. Selalu usil dan curiga pada umat agama lain.

Radikalisme itu memiliki struktur, memiliki sumber dana, memiliki program. Mereka bergerak dalam senyap. Dengan tameng keimanan dan nama mayoritas, mereka melakukan pembusukan dari dalam. Akibatnya, agama orang-orang banyak yang diam tadi kena getahnya. Agama yang berlandaskan kasih sayang berganti dengan amarah dan kebencian.

Sementara orang banyak itu tidak menyadari bahwa mereka hanyalah buih di lautan. Saat orang-orang anarkis mengubah agama mereka menjadi bengis dan pemarah, mereka hanya bergerak seturut goyangan ombak. Akal sehat mengutuk, nurani tidak menerima, tapi mereka tidak berbuat apa-apa. Pemerintah mereka diam, ulama mereka bungkam. Buih di lautan itu hanya bergoyang-goyang, lalu terhempas ke tepian tanpa guna.

Saya membayangkan, anak-anak itu pulang ke rumah dengan menunduk lesu. Langkah mereka lemah, napas mereka resah. Mereka telah melihat dengan mata-kepala sendiri, bahwa slogan Bhineka Tunggal Ika itu palsu. Nyatanya yang berbeda dijadikan musuh. Mereka mulai sadar, Pancasila yang dianggap sakti itu tidak sanggup mengatasi orang-orang yang mabuk agama. Tidak ada lagi gunanya.

Demi anak-anak itu, saya minta maaf sedalam-dalamnya.

Kajitow Elkayeni

0 Response to "SAAT PANCASILA TAK SAKTI LAGI"

Posting Komentar