
Tidak sedikit warga NU yg bertanya, mengapa NU secara organisasi tidak mendukung Aksi Bela Islam I,II dan III. Bukankah NU itu ormas Islam ? Pertanyaan demikian juga muncul dalam rapat2 NU di semua tingkatan. Akhirnya dengan beberapa pertimbangan NU secara kelembagaan tidak terlibat dan tidak melibatkan diri dalam 3 aksi di atas.
Kebijakan itu diambil, - sejauh yg saya tahu- karena beberapa alasan:
1- Kata awliya' dlm al Maidah: 51 itu bisa ditafsiri ganda: pemimpin atau teman dekat. Dalam konteks Indonesia yg sdg belajar demokrasi kata awliya' lebih pas ditafsiri sbg teman dekat. Dengan demikian, Ahok yang kristen punya hak untuk memilih dan dipilih.
2- Ahok dinilai tidak menista Alquran dalam pernyataannya yg menyebut al- Maidah: 51.
3- Para inisiator aksi adalah para tokoh yg menganggap Pancasila itu bertentangan dengan Islam. Sedang menurut NU; Pancasila, UUD '45, NKRI dan kebhinekaan adalah adalah empat pilar kebangsaan yg harus dipertahankan dan diperjuanfkan.
4- NU mengetahui bahwa aksi ini menjadi jalan masuk berkembangnya radikalisme yg akan berlanjut pd terorisme.
5- NU dapat info bhw aksi akan dimanfaatkan oleh beberapa tokoh menggulingkan pemerintah yg terpilih secara demokratis.
Untuk itu, NU siap menghadapi konsekuensi akibat sikapnya yg oleh para pendukung aksi dinilai "mengkhianati" perjuangan Islam.
Menurut saya, dalam jangka pendek sikap NU tersebut "merugikan", tapi dalam jangka panjang sungguh akan sangat menguntungkan perjalanan demokrasi di NKRI, dan kelangsungan masa depan dakwah Islam. Kecaman apapun yg dialamatkan kepada NU, tidak akan mampu merontokkan sikap straregis NU yg menjadi pilihannya.
Dr. KH. Imam Ghozali Said.
Dekan Fak Adab UINSA
Dekan Fak Adab UINSA
Taufik Damas
0 Response to "NU DAN PANCASILA"
Posting Komentar