About

SUDAH SAATNYA UMAT KRISTEN MELAWAN...




"Sabar ya.. semoga nanti Tuhan membalas mereka..."

Ketika menulis "melawan intoleran" yang menyinggung tentang peristiwa pembubaran acara KKR Natal di Sabuga Bandung, saya banyak membaca komen2 seperti itu dari teman2 Kristen.


Selain bahasa sabar ada juga yang mencaci maki karena geram terhadap peristiwa itu terjadi. Malah ada yang ekstrim menyalahkan seluruh umat muslim tanpa pernah memahami bahwa tidak semua muslim radikal spt ormas abal2 itu.

Geram dan caci maki tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Sabar keterlaluan juga hanya akan membuat semua berjalan di tempat saja. Apalagi yang menyalahkan seluruh muslim karena agamanya, jelas kalau yang ini tampak bodohnya.

Yang kita pahami bahwa Tuhan mengajarkan kita melalui berbagai peristiwa. Sabar iya, geram harus.. Tetapi bagaimana mengkombinasikan sabar dan geram itu menjadi satu gerakan indah dan bukan hanya ada di bibir saja, ini yang perlu dipelajari bersama..

Kembali saya mencoba mengambil contoh langkah Jokowi sebagai pembelajaran kita bersama..

Ketika ia ditekan dari berbagai sudut, Jokowi tidak sibuk bicara, "sabar ya.." apalagi "kita harus prihatin.." Jokowi juga tidak pernah mencaci maki kelompok yang menekannya. Ia selalu mengambil posisi solusi...

Dan lihat langkah Jokowi ketika dia bergerak. Begitu anggun dan mengandung gerakan2 politik yang mengedukasi. Entah disadarinya atau tidak, Jokowi bukan hanya pencetus revolusi mental. Ia adalah pelaku utamanya...

Jokowi tidak menghadapi musuhnya secara langsung. Ia berputar mengambil sudut pertempuran yang cantik dengan merangkul musuh dari musuhnya. Ia mengajak duduk Prabowo sebagai bagian dari mencari solusi bersama. Dan ia tidak merasa rendah diri meski ia dalam posisi tertinggi...

Gerakan2 cantik ini seharusnya ditiru oleh umat Kristen di Indonesia yang berada pada posisi ditekan, terutama di daerah intoleran. Tekanan seharusnya bukan membuat semakin lemah, justru harus semakin pintar bermainnya.

Tidak perlu mengambil posisi terzolimi juga karena simpati itu hanya datang sesaat, kemudian hilang tertelan masa. Tidak akan pernah menyelesaikan akar masalah...

Jika negara tidak atau belum hadir disana, seharusnya tidak membuat umat Kristen menyerah. Justru harus semakin pintar bermain strategi yang benar.

Cara bermain yang cantik sudah saya paparkan sebelumnya. Ajak dan rangkullah NU atau Muhammadiyah untuk duduk bersama. Datangilah mereka dan ajak berfikir tentang kebhinekaan di negara kita. Jangan menunggu mereka datang dan menawarkan keamanan, tapi lebih dari itu libatkan mereka dalam pelbagai acara keagamaan dan terlibatlah dalam acara mereka juga.

Eksklusifitas adalah masalah kita bersama. Kita juga harus bisa mengenali sisi salahnya kita. Kenapa nudah diserang oleh ormas abal2 ? Karena di dunia yang penuh serigala ini, menjadi domba yang berkelompok sendiri dan lemah bukan pilihan yang tepat.

Merapatlah ke kelompok banteng yang kuat sehingga membentuk satu ikatan emosional bersama. Tujuannya bukan sekedar pengamanan ibadah tetapi lebih luas dari itu merajut bhinneka. Libatkan NU atau Muhammadiyah mulai dari pengurusan izin, akses ke keamanan sampai melibatkan mereka dalam acara.

Mulailah dari wilayah masing2..

Jangan lagi bicara "untuk kalangan sendiri", karena sesungguhnya sendirian membuka diri untuk menjadi mangsa yang mudah diserang.

Tuhan tidak menyuruh manusia untuk pasrah saja, tetapi kita wajib menggunakan akal kita untuk beradaptasi pada situasi. Usaha dulu dengan sekuat tenaga, baru hasilnya serahkan padaNya...

Melawan kelompok intoleran, kita harus super toleran. Kalau masih terjebak eksklusifitas, ya habis dimakan. Cerdaslah, selalu ada hikmah dibalik peristiwa..

Tuhan ingin kuda2 kita kuat ketika terus mengalami tekanan, bukannya kita malah menjadi cengeng dengan selalu menyalahkan apa yang ada.

Mainkan gerakan tai-chi ketika lawan memukul dengan keras. Keseimbangan emosional disini sangat berperan. Jangan pernah selalu mau ditekan, lawanlah... Tapi lawan dengan elegan.


denny siregar

0 Response to "SUDAH SAATNYA UMAT KRISTEN MELAWAN..."

Posting Komentar