Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai menyayangkan sikap masyarakat Indonesia yang masih meng"kotak-kotakan" berdasarkan golongan, ras, suku, etnis dan agama. Beliau menuturkan,sudah tidak tepat lagi jika kita masih berfikiran seperti itu.

Saya jadi anggota di 5 grup WA yg didalamnya terdiri dari tokoh-tokoh nasional, baik menteri atau pejabat. Amat Sangat mengejutkan isi dari isu pembahasannya masihlah berbau rasis, diskriminatif juga kekerasan verbal yg didorong atas rasa kebencian Suku, Agama, Ras & Antar Golongan (SARA),” ujarnya dalam siaran pers yg di terima Ambiguistik.com, Rabu (14/9/2016).
Salah satu yang cukup menyita perhatian adalah soal Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
“Penyebutan Ahok,sebagai , cina, kristen, kafir, dan pendatang adalah kosa kata wajib yang biasa mereka gunakan. Saya pernah komentar satu kali, tapi saya dikritik-balik ramai-ramai.

Saya jadi anggota di 5 grup WA yg didalamnya terdiri dari tokoh-tokoh nasional, baik menteri atau pejabat. Amat Sangat mengejutkan isi dari isu pembahasannya masihlah berbau rasis, diskriminatif juga kekerasan verbal yg didorong atas rasa kebencian Suku, Agama, Ras & Antar Golongan (SARA),” ujarnya dalam siaran pers yg di terima Ambiguistik.com, Rabu (14/9/2016).
Salah satu yang cukup menyita perhatian adalah soal Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
“Penyebutan Ahok,sebagai , cina, kristen, kafir, dan pendatang adalah kosa kata wajib yang biasa mereka gunakan. Saya pernah komentar satu kali, tapi saya dikritik-balik ramai-ramai.
Padahal Ke-Bhinekaan bangsa Indonesia merupakan sebuah wahyu, sabda, titah yg tercatat yang merupakan adagium persatauan & kesatuan, kebhinekaan bangsa telah final & mengikat sanubari tiap orang, menjamurnya beraneka ragam etnis, ras, budaya mesti di terima yang merupakan keadaan kekinian, realitas bangsa bahkan keanekaragaman merupakan satu buah niscaya,bukan seperti ini,” tuturnya mengungkapkan keluh kesah yg berlangsung didalam kelompok WA terbatas itu.
Natalius meneruskan, amat terlampaui naif dan terjebak dalam sektarianisme, eksklusivisme bahkan chauvinistik jika ada ‘kotak-kotak’ yg memisahkan suku.
“Janganlah lupa bahwa perjuangan bangsa Indonesia dilakukan dengan cara sporadis, berjuang sendiri-sendiri di wilayahnya masing-masing bersama satu tekad tujuan mengusir penjajah. Jangan Sampai kita bersifat kerdil lantaran hal-hal bersifat kerdil yg cuma akan dipikirkan oleh beberapa orang yg berjiwa kerdil,” tambahnya.
“Sehingga persoalan pendatang dan pribumi, mayoritas dan minoritas tak butuh terlalu difragmentasi terlalu tajam, karena pada dasarnya kita semua di nusantara ini merupakan bangsa pendatang,” tegasnya.
Oleh dikarenakan, Natalius mengemukakan, Indonesia merupakan bangsa pendatang dan multiminoritas penghuni gugusan pulau pulau nusantara.
“Jadi tak ada warga original atau pendatang, pribumi atau non pribumi. Orang minoritas dapat jadi presiden Republik Indonesia,terlebih cuma gubernur. Silakan kita sudahi dikotomi original dan pendatang, pribumi dan non pribumi,” begitu laki-laki asal Papua itu bicara panjang lebar.
Bagaimana menurut anda?
“Janganlah lupa bahwa perjuangan bangsa Indonesia dilakukan dengan cara sporadis, berjuang sendiri-sendiri di wilayahnya masing-masing bersama satu tekad tujuan mengusir penjajah. Jangan Sampai kita bersifat kerdil lantaran hal-hal bersifat kerdil yg cuma akan dipikirkan oleh beberapa orang yg berjiwa kerdil,” tambahnya.
“Sehingga persoalan pendatang dan pribumi, mayoritas dan minoritas tak butuh terlalu difragmentasi terlalu tajam, karena pada dasarnya kita semua di nusantara ini merupakan bangsa pendatang,” tegasnya.
Oleh dikarenakan, Natalius mengemukakan, Indonesia merupakan bangsa pendatang dan multiminoritas penghuni gugusan pulau pulau nusantara.
“Jadi tak ada warga original atau pendatang, pribumi atau non pribumi. Orang minoritas dapat jadi presiden Republik Indonesia,terlebih cuma gubernur. Silakan kita sudahi dikotomi original dan pendatang, pribumi dan non pribumi,” begitu laki-laki asal Papua itu bicara panjang lebar.
Bagaimana menurut anda?
0 Response to "Kenapa Ahok di Diskriminasi Dan Dijadikan Musuh Bersama?"
Posting Komentar